Login Form



LAVENDER SEGAR PDF Print E-mail
Written by administrator   
Friday, 17 April 2009 10:18
 
KOMPAS Minggu 
(20 Februari 2005 - Kehidupan)

Sejak akhir tahun 1960an itu, secara incremental, istilah cakra, aura; energi, meditasi, transformasi, memasuki wilayah pergaulan sosial. Semakin banyak lembaga yang membuat berbagai pelatihan berkaitan dengan self. Ada self healing, ada self empowerment, dan lain-lain, Banyak praktisinya yakin bahwa segala perubahan dimulai dari diri sendiri.

“Tidak mungkin ada perubahan tan-pa mengubah diri sendiri,” kata Erbe Sentanu (42) atau Nunu, panggilan akrabnya. Karena menekankan pada apa yang ia sebut sebagai “cara pandang” , maka ia tidak berada di wilayah “pro” atau “anti” segala hal yang ber¬kaitan dengan kerusakan alam dan kebobrokan kehidupan; namun keluar dari semua itu dan menanggapinya di dalam wilayah kesadaran manusia.

Dengan Katahati Institute yang didirikan setelah mendapatkan pencerahan spiritual saat belajar di Selandia Baru ia memperkenalkan lembaganya sebagai Pusat Teknologi Transformasi Kesadaran Sukses. Lembaga ini memfasilitasi berbagai pelatihan serta peningkatan kualltas kesadaran dan mutu kehidupan manusia secara personal dan memproduksi beragam peranti transformasional modern sebagai alat bantunya.

Aspek spiritual manusia, seperti kepasrahan dan kekhusyukan, menurut ayah satu anak ini, ditentukan oleh gelombang otaknya. Karena itu, ia memproduksi rekaman dalam CD yang Sudah dirancang untuk membangkitkan kondisi brainwave tertentu sehingga tercipta aspek spiritualitas yang dituju.

Dalam perjalanannya Nunu mengaku secara langsung pernah bertukar pikiran dengan para pakar pengembangan pribadi dari mancanegara, se¬perti Deepak Chopra, Brian Tracy, Maharishi Mahesh Yogi, Sandy MacGregor, Shri Shri Ravi Shankar, Wayne Dyer dan penulis trilogi The Celestine Prophecy, James Redfield.

Sebagian klien Katahati Institute adalah karyawan berbagai perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan besar. la menentukan tarif tertentu untuk program-program pelatihannya.

“Selama ini tuntunan mencari diri sejati dan mencari Tuhan sudah banyak dilakukan melalui agama. Namun, hampir semua ajaran itu bersifat teoretis dan dogmatis. Saya berusana menjembatani spirituaiitas dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta; merasionalisasikan seluruh aspek spi¬ritual,” papar Nunu yang menyebut latihan spiritual di lembaganya sebagai technospirititality.

Banyak munculnya pusat pelatihan yang memadukan antara teknologi dan spirituaiitas tak urung mengundang tatapan sinis dari mereka yang bersikap skeptis terhadap hal-hal seperti itu. Definisi spirituaiitas menjadi rumit ketika ia menjadi barang dagangan atau komoditas dalam kacamata post-modemisme. Di AS, bisnis spirituaiitas beserta seluruh ikutannya bernilai sekitar dua miliar dollar per tahun. Tak usah heran dengan penampilan yuppy dari seseorang yang disebut “guru” atau dianggap “orang suci”, beserta imperium-imperium korporasi yang menyatukan spirituailitas dan ilmu pengetahuan.

“Kalau dibilang ini sebagai industri atau bisnis kesadaran, saya tidak keberatan, karena memang ada biaya untuk pelayanan jasa yang diberikan” kata Nunu.

Akan tetapi, seperti ditegaskannya, “Spirituaiitas sendiri bukanlah sesuatu yang dapat diperdagangkan.” Semuanya berada dalam perjalananan pengalaman seseorang. Mungkin cara mencapainya yang kemudian menjadi “industri” karena kebutuhannya cu¬kup besar.

Baik Nunu maupun Reza menolak apa yang dinamakan sebagai kultus individu terhadap para guru spiritual karena hal itu akan membangun ketergantungan yang lain; tidak me-merdekakan. Padahal spiritualitas pada intinya adalah membebaskan dari segala ketergantungan.

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
back to [ TOP ]
.:: © 2009 erbesentanu.com :: Hak Cipta Dilindungi Undang Undang ::.